
CHARGING SAFETY AND FIRE RISK COMPARISONS: NGECAS EV VS ISI BENSIN, MANA LEBIH BERISIKO?
Oleh: Mahaendra Gofar (KOLEKSI 909)
InfrastrukturSetiap kali video mobil listrik terbakar viral di media sosial, pertanyaan yang sama selalu muncul: benarkah ngecas mobil listrik lebih berbahaya daripada isi bensin di SPBU? Pertanyaan ini wajar, sebab kita terbiasa memahami risiko bahan bakar minyak selama lebih dari satu abad, sementara baterai bertegangan tinggi masih terasa asing. Artikel ini mencoba menjawabnya berbasis data, bukan rasa takut, dengan prinsip sederhana: risiko = probabilitas x dampak.
Memahami Sumber Risiko Kebakaran
Risiko kebakaran pada pengisian daya kendaraan listrik (EV) umumnya bersumber dari thermal runaway pada sel baterai, korsleting, atau instalasi listrik rumah yang tidak memenuhi standar. Sebaliknya, risiko utama pada pengisian bensin di SPBU adalah uap bahan bakar yang mudah tersulut, percikan listrik statis, dan kelalaian manusia (human error). Meski kedua jenis kendaraan ini sama-sama memiliki risiko, karakteristiknya sangat berbeda: EV memiliki risiko kimiawi-elektrokimia yang berkembang lambat, sementara mobil konvensional memiliki risiko pembakaran cepat dari uap yang mudah menyala.
Data global secara konsisten menunjukkan bahwa mobil bensin justru jauh lebih sering terbakar dibandingkan mobil listrik. Studi berbasis data dari National Transportation Safety Board (NTSB) dan Bureau of Transportation Statistics di Amerika Serikat mencatat sekitar 1.530 kasus kebakaran per 100.000 mobil bensin, dibandingkan hanya 25 kasus per 100.000 mobil Listrik, selisih sekitar 60 kali lipat.
Otoritas kebakaran di berbagai negara Eropa juga mencatat tren yang sama:
Swedia (MSB, 2022): Tingkat kebakaran mobil listrik hanya 0,004%, jauh di bawah kendaraan bensin/diesel yang mencapai 0,08%.
Norwegia: Kebakaran mobil konvensional tercatat 4–5 kali lebih sering daripada EV.
Polandia (Badan Pemadam Kebakaran Nasional, 2020–2025): Dari 51.142 total kebakaran kendaraan, hanya 87 kasus yang melibatkan mobil listrik murni (BEV).
Di Indonesia sendiri, catatan KNKT menunjukkan bahwa hanya ada 7 kasus kebakaran nyata yang melibatkan mobil listrik murni sejak pertama kali diadopsi secara massal pada tahun 2021 hingga akhir 2026, dengan populasi yang sudah mencapai 264.000 unit.
National Fire Protection Association (NFPA) menegaskan bahwa belum ada bukti yang menunjukkan EV lebih rentan terbakar dibandingkan kendaraan berbahan bakar minyak (BBM). Justru sebaliknya, frekuensinya jauh lebih rendah.
Meski demikian, saat kebakaran EV terjadi, penanganannya jauh lebih kompleks. Api dari baterai lithium-ion menghasilkan panas yang jauh lebih tinggi, berpotensi menyala kembali (reignition) beberapa jam setelah tampak padam, serta membutuhkan volume air yang jauh lebih besar untuk pendinginan dibandingkan pemadaman api bensin yang cukup menggunakan air atau foam biasa.
Terkait biaya perbaikan, klaim bahwa EV "sekali tabrak langsung total loss (rusak total)" sebagian memang benar. Hal ini terjadi karena komponen baterai yang mahal sering kali terintegrasi langsung dengan sasis, sehingga kerusakan kecil pada pelindung baterai dapat memicu biaya penggantian yang hampir setara dengan harga mobil baru.
Deep Dive: Risiko Saat Charging EV
Risiko kebakaran terbesar sebenarnya bukan berasal dari baterai mobil itu sendiri, melainkan dari instalasi listrik di rumah. Mengisi daya mobil listrik membutuhkan aliran setrum yang besar selama berjam-jam. Akibatnya, penggunaan colokan biasa, kabel sambungan (extension), atau jaringan listrik rumah yang tidak dilengkapi alat pengaman otomatis sangat rawan memicu panas berlebih dan korsleting. Selain itu, sistem pembumian (grounding) atau kabel arde yang tertanam ke tanah wajib terpasang dengan standar yang baik, bukan sekadar pelengkap, untuk membuang kebocoran arus listrik secara aman.
Di tempat pengisian daya publik (SPKLU), risikonya jauh lebih aman dan terkendali. Mesin pengisi daya publik sudah dilengkapi "otak pintar" pelindung baterai, penangkal panas berlebih, dan sistem pemutus arus otomatis jika terjadi kendala.
Banyak orang juga khawatir apakah pengisian daya cepat (fast charging) lebih berbahaya daripada pengisian biasa. Memang benar, pengisian cepat menghasilkan panas yang lebih tinggi pada baterai. Namun, mobil listrik modern sudah dibekali sistem pendingin cairan dan pembatas arus otomatis, sehingga risikonya tidak otomatis melonjak selama alat pengisi dayanya resmi dan sesuai standar pabrikan. Batas standar "pengisian cepat" ini bahkan sekarang sudah bergeser jauh ke tingkat yang lebih canggih, seperti teknologi pengisian kilat terbaru yang baru saja diperkenalkan di Indonesia (kita bahas di bagian berikutnya).
Selain sistem pengaman, jenis bahan kimia di dalam baterai juga sangat memengaruhi keamanan. Baterai jenis LFP (Lithium Ferro Phosphate) dikenal jauh lebih stabil dan tahan terhadap panas tinggi sebelum struktur di dalamnya rusak, dibandingkan dengan baterai jenis NMC (Nickel Manganese Cobalt) yang lebih sensitif pada suhu panas. Untuk negara beriklim tropis seperti Indonesia yang udaranya panas dan lembap, daya tahan ekstra dari baterai LFP ini memberikan jarak aman yang lebih luas dari risiko kebakaran, meskipun daya tampung energinya sedikit lebih rendah daripada baterai jenis NMC.
BYD Flash Charging
Baru-baru ini, BYD Motor Indonesia memperkenalkan Flash Charging bersamaan dengan peluncuran Danza (sebelumnya dikenal sebagai Denza) New D9 dan Z9 GT. Keduanya memakai Blade Battery generasi kedua. Flash Charging adalah pengisian DC berdaya hingga 1.500 kW lewat satu konektor. Pada kondisi lingkungan normal, BYD mengklaim baterai terisi dari 10% ke 70% dalam 5 menit dan dari 10% ke 97% dalam 9 menit. Satu stasiun memiliki dua konektor; bila dipakai dua mobil sekaligus, masing-masing mendapat hingga 1.000 kW. Daya sebesar itu tidak diambil langsung dari PLN: listrik lebih dulu ditampung di sistem penyimpanan energi terintegrasi di stasiun yang berfungsi sebagai cadangan sekaligus penguat daya, sehingga jaringan listrik tidak terbebani. Unit pertama sudah terpasang di dealer Danza Gatot Subroto, Jakarta, dan direncanakan hadir di 10 dealer Danza.
BYD menegaskan sistem ini aman, dan klaimnya cukup spesifik. Menurut BYD, baterai generasi kedua telah divalidasi melampaui standar nasional terbaru China, termasuk tiga pengujian kondisi ekstrem, serta memenuhi standar IEC yang relevan dan sudah tersertifikasi. Pada uji penusukan paku (nail penetration) yang dilakukan saat Flash Charging berlangsung, baterai disebut tidak mengalami thermal runaway, asap, maupun kebakaran, dengan hasil sama setelah 500 siklus Flash Charging. Dalam uji korsleting paksa pada empat sel sekaligus, tidak terjadi thermal runaway, kebakaran, maupun ledakan, dan battery pack lolos uji benturan bagian bawah dengan energi hingga 10 kali lipat dari yang disyaratkan standar pengujian China. BYD Motor Indonesia juga menyatakan bahwa mengecas dengan daya besar tidak merusak baterai, berbeda dengan anggapan banyak orang.
Meski teknologinya terdengar sangat menjanjikan, kita tetap harus bersikap kritis. Pertama, semua klaim aman dan super cepat ini baru sebatas uji coba internal dari pihak pabrikan, belum dibuktikan oleh lembaga penguji independen. Kedua, kecepatan dan kinerja isi daya tersebut di iklim tropis Indonesia yang panas dan lembap masih harus kita lihat dalam pemakaian sehari-hari.
Protokol Keamanan dan Mitigasi
Indonesia telah memiliki kerangka regulasi yang cukup lengkap. Badan Standardisasi Nasional (BSN) telah menerbitkan 38 SNI terkait kendaraan listrik: 12 SNI untuk keselamatan dan performa sistem kendaraan, 11 SNI untuk baterai dan komponen penggerak, serta 15 SNI untuk infrastruktur pengisian, kabel, dan konektor. Permen ESDM No. 1 Tahun 2023 mengatur penyediaan infrastruktur SPKLU beserta sistem proteksi dan keamanannya.
Yang perlu dilakukan pengguna: pastikan instalasi rumah dikerjakan teknisi bersertifikat sesuai Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL), gunakan charger dan SPKLU resmi berstandar SNI/IEC, jangan memakai colokan atau kabel ekstensi biasa, dan pasang detektor asap di garasi.
Untuk tanggap darurat, kesiapan first responder di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Dinas pemadam kebakaran (Damkar) di berbagai daerah mulai membangun SOP dan pelatihan khusus penanganan kebakaran EV, yang mencakup pemahaman lokasi baterai, titik pemutus arus darurat, teknik pendinginan dengan nozzle khusus, serta karantina kendaraan pascakebakaran untuk mencegah reignition. EVSafe Indonesia sendiri telah menggelar simulasi EV Fire Drill bersama first responder, termasuk petugas gedung parkir dan mal, karena kesadaran di level inilah yang sering tertinggal dibanding kesiapan Damkar formal.
Mitos yang Perlu Diluruskan
“Ngecas saat hujan langsung kesetrum.” Fakta: charger dan konektor EV dirancang untuk penggunaan luar ruangan (umumnya IP54 ke atas), arus baru mengalir setelah konektor terpasang dan terjadi komunikasi dengan kendaraan, serta dilengkapi proteksi kebocoran arus yang memutus listrik dalam hitungan milidetik jika terdeteksi gangguan. Tetap hindari memakai charger rusak atau konektor yang basah kuyup tergenang.
“Baterai EV yang kebakar tidak bisa dipadamkan.” Fakta: bisa dipadamkan, hanya membutuhkan metode dan durasi berbeda, pendinginan intensif dengan air dalam volume besar, bukan sekadar disemprot sekali lalu selesai.
“EV masuk banjir pasti kesetrum.” Fakta: paket baterai dan komponen tegangan tinggi umumnya bersertifikasi IP67/IP68 yang tahan terendam air pada kedalaman dan durasi tertentu, dilengkapi automatic cut-off. Risiko sesungguhnya lebih ke arah kerusakan komponen non-kelistrikan (rem, kaki-kaki, interior), dan menerjang banjir tetap tidak disarankan dalam kondisi apa pun, sama seperti mobil bensin.
Kesimpulan dan Rekomendasi
Secara statistik, dari berbagai negara dan metodologi pengukuran, mobil listrik terbukti jauh lebih jarang terbakar dibanding mobil berbahan bakar minyak. Namun ketika insiden terjadi, penanganannya memang lebih kompleks dan membutuhkan kesiapan first responder yang lebih spesifik. Untuk pembaca, tiga langkah paling penting: pastikan instalasi listrik rumah dikerjakan teknisi bersertifikat sesuai standar PUIL dan SNI, gunakan hanya charger dan SPKLU resmi, serta jangan abaikan recall atau indikasi kerusakan baterai.
Perkembangan terbaru seperti BYD Flash Charging menunjukkan arah industri: pengisian secepat mengisi bensin kini mulai hadir di Indonesia, dengan klaim keselamatan sel yang kuat. Klaim itu layak diapresiasi, namun keselamatan sebuah ekosistem pengisian ditentukan oleh seluruh rantainya, mulai dari sel, charger, penyimpanan energi di stasiun, instalasi, hingga kesiapan responden darurat. Verifikasi independen dan kesiapan operasional perlu berjalan seiring dengan kecepatan teknologinya.
Risiko terbesar ekosistem kendaraan listrik bukan terletak pada teknologi baterainya, yang terus berkembang menjadi lebih aman, melainkan pada kelalaian manusia dan infrastruktur pengisian yang tidak sesuai standar.
Referensi
1. Interesting Engineering, “Do EVs catch fire more than gas cars? A data-driven safety comparison,” 2025–2026 — interestingengineering.com/transportation/do-electric-vehicles-really-catch-fire-more
2. IEEE Spectrum, “Extinguishing the EV Battery Fire Hype” — spectrum.ieee.org/amp/lithium-ion-battery-fires-2666298766
3. ConsumerAffairs, “Electric Car Fire Statistics 2026” — consumeraffairs.com/automotive/electric-car-fire-statistics.html
4. EVinfo.net, “EVs Are Far Less Likely to Catch Fire Than Gas-Powered Cars,” 2025 — evinfo.net/2025/11/evs-far-less-likely-to-catch-fire-than-gas-powered-cars/
5. ScienceDirect, “Comparative safety analysis of current and next-generation battery technologies,” 2026 — sciencedirect.com/science/article/pii/S0378775326001783
6. Electric & Hybrid Vehicle Technology International, “LFP vs NMC thermal runaway,” 2025 — electrichybridvehicletechnology.com/technical-articles/lfp-vs-nmc-thermal-runaway.html
7. Badan Standardisasi Nasional (BSN), “BSN Sudah Keluarkan 38 SNI Khusus Kendaraan Listrik di Indonesia” — bsn.go.id/main/berita/detail/17759/
8. Peraturan Menteri ESDM No. 1 Tahun 2023 tentang Penyediaan Infrastruktur Pengisian Listrik untuk KBL Berbasis Baterai — jdih.kemenkoinfra.go.id
9. Otomotifo, “Damkar Dituntut Tingkatkan Kemampuan dan Siapkan SOP Khusus untuk Tangani Kebakaran Mobil Listrik,” 2026 — otomotifo.com/kebakaran-mobil-listrik/
10. Medcom.id, “Teknik EVSafe Indonesia Memadamkan Kebakaran Mobil Listrik,” 2025 — medcom.id/otomotif/mobil/MkMOA4wN
11. Mureks, “Kasus Kebakaran Mobil Listrik Sorotan, Pengamat Desak Edukasi Mitigasi untuk Damkar dan Pengelola Properti,” 2026 — mureks.co.id
12. Jakarta Grounding, “Bahaya Charger EV Tanpa Proteksi ELCB dan MCB,” 2026 — jakartagrounding.com
13. Maskoelectrical, “Biaya Pasang Home Charger Mobil Listrik di Rumah 2026” — maskoelectrical.com/post/biaya-pasang-home-charger-mobil-listrik-2026
14. IDN Times, “Mobil Listrik Lebih Tahan Menerjang Banjir: Mitos atau Fakta?,” 2026 — idntimes.com
15. Beritasatu, “Mobil Listrik Lebih Berbahaya Saat Banjir? Ini Fakta Sebenarnya,” 2026 — beritasatu.com/ototekno/2992057
16. CNN Indonesia, “BYD Bawa Flash Charging ke RI, Isi Baterai 10-70% Cuma 5 Menit,” 14 Oktober 2026 — cnnindonesia.com/otomotif/20261012162342-603-1414493/byd-bawa-flash-charging-ke-ri-isi-baterai-10-70-cuma-5-menit
17. CNN Indonesia, “BYD Resmi Jual Danza New D9 dan Z9GT di Indonesia,” 14 Oktober 2026 — cnnindonesia.com/otomotif/20261014134633-603-1415215/byd-resmi-jual-danza-new-d9-dan-z9gt-di-indonesia
18. detikOto, “Danza New D9 dan Z9 GT Meluncur, Ini Harganya,” Oktober 2026 — oto.detik.com/mobil-listrik/d-8706512/danza-new-d9-dan-z9-gt-meluncur-ini-harganya
Artikel Terkait

27 Okt 2026
KETERSEDIAAN INFRASTRUKTUR DAN STANDAR PENGISIAN KENDARAAN LISTRIK DI INDONESIA
Oleh: Dr. Eka Rakhman Priandana (KOLEKSI 912)

27 Okt 2026
SAAT CHINA MENGGUNCANG PASAR BATERAI EV BERBASIS LFP: APAKAH NIKEL INDONESIA MASIH MENJADI PRIMADONA?
Oleh: Bagus Anggraini, M.T. (KOLEKSI 908)

27 Okt 2026
BATERAI EV DAN KETAKUTAN PUBLIK
Oleh: Hendro Sutono (KOLEKSI 913)