
SAAT CHINA MENGGUNCANG PASAR BATERAI EV BERBASIS LFP: APAKAH NIKEL INDONESIA MASIH MENJADI PRIMADONA?
Oleh: Bagus Anggraini, M.T. (KOLEKSI 908)
InfrastrukturBaterai Murah dari China Mengubah Permainan
Coba perhatikan mobil listrik yang kini makin sering lalu-lalang di jalanan kita. Banyak di antaranya bermerek China, harganya mulai Rp200 jutaan, dan kemungkinan besar baterainya tidak memakai nikel [1].

Gambar 1. LFP vs NMC
Baterai itu bernama LFP (Lithium Iron Phosphate) atau LiFePO4. Bahan utamanya besi dan fosfat: murah, mudah didapat, dan lebih tahan panas sehingga lebih aman. Dulu LFP dianggap kelas dua karena “tenaganya” kalah dari baterai nikel. Ibaratnya, baterai NMC (Nickel Manganese Cobalt) adalah mobil sport yang bertenaga tetapi mahal, sedangkan LFP adalah mobil keluarga yang irit, bandel, dan ramah di kantong. Ternyata, kebanyakan orang lebih memilih yang kedua. Kini keadaannya berbalik. Badan Energi Internasional (IEA) mencatat lebih dari setengah baterai mobil listrik dunia pada 2025 adalah LFP [2], dengan harga rata-rata 40% lebih murah dibanding baterai berbasis nikel [3]. Tahun ini porsinya terus naik [4].

Gambar 2. Pangsa Baterai Mobil Listrik Menurut Jenis Kimia, 2023-2025 [2]
Siapa rajanya? China, yang memproduksi sekitar 99% bahan inti (katoda) LFP dunia [5]. Beijing memperketat ekspor teknologi LFP sejak 2025 [6], bahkan sempat mengumumkan pembatasan ekspor baterai yang kini ditangguhkan hingga 10 November 2026 [7]. Artinya, kunci teknologi baterai murah dipegang erat oleh satu negara.
Ironi di Negeri Nikel
Di sinilah ironinya. Indonesia adalah “kerajaan nikel” dunia: sekitar 44,5% cadangan dan dua pertiga produksi nikel global ada di sini [8]. Selama bertahun-tahun, nikel digadang-gadang sebagai tiket emas Indonesia di era mobil listrik.
Namun di pasar kita sendiri, baterai berbasis litium-besi (LFP/LiFePO4) dipakai oleh sekitar 96% mobil listrik pada 2024 [9]. Penjualan mobil listrik Januari–September 2026 sudah menembus 117 ribu unit, melampaui penjualan sepanjang tahun lalu 2025 [10]. Kita punya nikel melimpah, tetapi mobil listrik yang kita beli justru tidak memakainya. Ini bukan salah konsumen. Pembeli wajar memilih yang paling terjangkau, dan saat ini yang paling terjangkau adalah LFP buatan China.
Tantangan lain ikut menghimpit. Harga nikel sempat tertekan karena pasokan berlebih, sampai pemerintah membatasi kuota tambang 2026 [11]. Para ahli juga mengingatkan cadangan bisa menipis dalam sekitar satu dekade jika terus dikeruk tanpa eksplorasi baru [12].
Jadi, Nikel Sudah Tamat?
Belum, bahkan jauh dari itu. Setidaknya ada tiga alasan untuk tetap optimistis.
Pertama, dunia tidak seragam. Di Eropa, LFP hanya sekitar 10% pasar, dan di Amerika Serikat porsinya malah turun [2]. Konsumen di sana menginginkan mobil yang sanggup menempuh jarak jauh, dan baterai nikel masih juaranya. Pemakaian bahan baterai berbasis nikel tetap tumbuh sekitar 10% pada paruh pertama 2026 [4], dan IEA memperkirakan kebutuhan nikel dunia naik 65% hingga 2040 [13].
Kedua, ada “tambang kedua” bernama daur ulang. Baterai bekas berbasis nikel bernilai tinggi karena logamnya bisa diambil kembali, sedangkan nilai daur ulang baterai LFP lebih rendah [14]. Eropa mewajibkan baterai mobil listrik baru mengandung nikel daur ulang mulai 2031 [15]. Negara yang sudah mahir memurnikan nikel, seperti Indonesia, punya modal awal yang besar. Indonesia Battery Corporation (IBC) pun telah merencanakan pabrik daur ulang di Halmahera Timur [16].
Ketiga, Indonesia mulai naik kelas. Pabrik sel baterai hasil kerja sama CATL dan IBC di Karawang mulai beroperasi bertahap pada Agustus 2026, terhubung dengan tambang dan smelter nikel di Halmahera [17]. Kita tidak lagi sekadar menggali, tetapi mulai membuat “jantung” mobil listrik. Nilai tambah yang dulu dinikmati negara lain kini mulai tinggal di dalam negeri, berupa lapangan kerja, teknologi, dan keahlian.
Bukan Nikel atau LFP, tetapi Keduanya
Pelajaran terpentingnya, Indonesia tidak perlu memilih satu dan membuang yang lain. Nikel untuk mobil premium dan pasar ekspor; LFP untuk mobil terjangkau dan penyimpanan listrik; daur ulang untuk menutup siklusnya.
Penyimpanan listrik adalah peluang besar yang sering terlewat. Rencana kelistrikan nasional (RUPTL 2025–2034) memuat sekitar 6 GW baterai penyimpan energi [18] untuk menampung listrik dari panel surya dan pembangkit terbarukan lainnya. Bayangkan siang hari panel surya memproduksi listrik berlimpah, lalu kelebihannya disimpan di baterai raksasa untuk dipakai malam hari ketika lampu-lampu rumah menyala. Inilah kunci ketahanan energi: semakin banyak listrik bersih yang bisa disimpan, semakin kecil ketergantungan kita pada BBM impor, apalagi ketika krisis di Timur Tengah kembali mengguncang pasokan energi dunia [19].
Regulasi: Kunci agar Indonesia Memimpin
Peluang sebesar ini tidak akan datang dengan sendirinya. Diperlukan aturan main yang jelas.
Peta jalan baterai yang terbuka pada semua teknologi. Jangan bertaruh pada satu jenis baterai saja.
Kewajiban daur ulang bagi produsen. Produsen dan importir harus menarik kembali baterai bekas agar tidak menumpuk menjadi limbah berbahaya, sekaligus menjadi bahan baku industri [16].
“Paspor” baterai. Catatan digital asal-usul baterai, dari tambang hingga daur ulang, agar produk kita dipercaya pasar dunia [14].
Tambang yang bijak. Produksi nikel diatur sesuai umur cadangan, dan smelter didorong memakai energi bersih.
Insentif untuk industri bernilai tinggi. Dukungan pemerintah diarahkan ke pabrik katoda dan sel baterai, bukan sekadar perakitan.
Guncangan baterai murah dari China seharusnya tidak membuat kita panik, tetapi memacu kita bergerak lebih cerdas. Nikel mungkin bukan lagi satu-satunya primadona. Namun dengan kebijakan yang tepat, Indonesia bisa menjadi panggung utama industri baterai dan kendaraan listrik dunia, sekaligus memperkuat ketahanan energinya sendiri.
Referensi
[1] Industry.co.id (2026). Rekap GIIAS 2026 Minggu Ini. Tersedia di: https://www.industry.co.id/read/153985/rekap-giias-2026-minggu-ini
[2] International Energy Agency (2026). Global EV Outlook 2026: Electric Vehicle Batteries. Paris: IEA. Tersedia di: https://iea.org/reports/global-ev-outlook-2026/electric-vehicle-batteries
[3] CompositesWorld (2026). Composites End Markets: Batteries and Fuel Cells (2026) (merangkum IEA Global EV Outlook 2026). Tersedia di: https://www.compositesworld.com/articles/composites-end-markets-batteries-and-fuel-cells-2026
[4] SNE Research (11 Agustus 2026). From Jan to June 2026, Global EV Battery Cathode Installment Reached 1,374K ton, a 21.6% YoY Growth. Tersedia di: https://www.sneresearch.com/en/insight/release_view/715/page/0
[5] ESS News (9 Januari 2025). China proposes to cut exports of battery cathode and lithium processing technologies (mengutip Benchmark Mineral Intelligence). Tersedia di: https://www.ess-news.com/2025/01/09/china-proposes-to-cut-exports-of-battery-cathode-and-lithium-processing-technologies/
[6] Project Blue (22 Juli 2025). China restricts export of battery cathode material and lithium extraction technologies. Tersedia di: https://projectblue.com/blue/news-analysis/1266/china-restricts-export-of-battery-cathode-material-and-lithium-extraction-technologies
[7] Herbert Smith Freehills Kramer (2025). China suspends export controls on lithium batteries and artificial graphite anode materials. Tersedia di: https://www.hsfkramer.com/notes/energy/2025-posts/china-suspends-export-controls-on-lithium-batteries-and-artificial-graphite-anode-materials
[8] Guosen Securities, via Tiger Brokers (2026). Nickel Supply-Demand Dynamics Tightening, Price Floor Expected to Rise Further (berbasis data USGS). Tersedia di: https://www.itiger.com/news/1161051744
[9] Katadata (24 Juni 2026). Industri Baterai Kendaraan Listrik RI Mulai Fokus ke Sektor Daur Ulang. Tersedia di: https://katadata.co.id/berita/industri/6a3baf25f25d3/industri-baterai-kendaraan-listrik-ri-mulai-fokus-ke-sektor-daur-ulang
[10] Kontan (12 Oktober 2026). 10 Mobil Listrik Terlaris di Indonesia hingga September 2026 (data Gaikindo). Tersedia di: https://industri.kontan.co.id/news/10-mobil-listrik-terlaris-di-indonesia-hingga-september-2026
[11] ICE Jakarta, mengutip Kontan (15 Januari 2026). Indonesia sets 2026 nickel quota at 250–260 million tons. Tersedia di: https://www.ice.it/it/news/notizie-dal-mondo/298167
[12] The Jakarta Post, via Asia News Network (8 Oktober 2026). Indonesia could run out of nickel within a decade. Tersedia di: https://asianews.network/?p=306414
[13] Times of Oman (1 Agustus 2026). Critical mineral demand to surge through 2040, supply gaps to persist: IEA (Global Critical Minerals Outlook 2026). Tersedia di: https://timesofoman.com/article/175113-critical-mineral-demand-to-surge-through-2040-supply-gaps-to-persist-iea
[14] Medcom.id (2026). Perlunya Paspor Baterai Mobil Listrik (wawancara Yannes Martinus Pasaribu, ITB). Tersedia di: https://www.medcom.id/otomotif/mobil/nbw56yxK-perlunya-paspor-baterai-mobil-listrik
[15] International Energy Agency (2024). EU Sustainable Batteries Regulation (Regulation (EU) 2023/1542). IEA Policies Database. Tersedia di: https://www.iea.org/policies/16763-eu-sustainable-batteries-regulation
[16] CNBC Indonesia (2 Februari 2026). IBC Siap Garap Proyek Daur Ulang Baterai EV di 2030. Tersedia di: https://www.cnbcindonesia.com/news/20260202191557-4-707548/ibc-siap-garap-proyek-daur-ulang-baterai-ev-di-2030/amp
[17] Investortrust.id (21 Agustus 2026). Indonesia Charges Its EV Ambitions as Giant CATL-IBC Battery Plant Begins Trial Runs in West Java. Tersedia di: https://investortrust.id/market/113741/indonesia-charges-its-ev-ambitions-as-giant-catl-ibc-battery-plant-begins-trial-runs-in-west-java
[18] International Energy Agency (2026). Financing Battery Energy Storage Systems in Indonesia: Executive Summary. Tersedia di: https://www.iea.org/reports/financing-battery-energy-storage-systems-in-indonesia/executive-summary
[19] pv magazine Australia (2026). Nearly 30% of cars sold in 2026 to be electric (mengutip IEA Global EV Outlook 2026). Tersedia di: https://www.pv-magazine-australia.com/?p=16016
Artikel Terkait

27 Okt 2026
KETERSEDIAAN INFRASTRUKTUR DAN STANDAR PENGISIAN KENDARAAN LISTRIK DI INDONESIA
Oleh: Dr. Eka Rakhman Priandana (KOLEKSI 912)

27 Okt 2026
CHARGING SAFETY AND FIRE RISK COMPARISONS: NGECAS EV VS ISI BENSIN, MANA LEBIH BERISIKO?
Oleh: Mahaendra Gofar (KOLEKSI 909)

27 Okt 2026
BATERAI EV DAN KETAKUTAN PUBLIK
Oleh: Hendro Sutono (KOLEKSI 913)